Sabtu, 11 November 2017

Ta'aruf="Beli Kucing dalam Karung"? Masa' sih?

Assalaamu'alaykum.

Demi menggapai keridhoan Allah dan berharap akan adanya keberkahan dalam pernikahan, banyak yang rela menahan hawa nafsunya, salah satunya dengan tidak berpacaran ketika hendak menikah.

Untuk bisa mengenal calon pasangan hidup, gak selalu harus dengan pacaran. Tapi saya gak akan bahas ini lebih jauh karena bahasan tentang pacaran dan hukumnya sudah banyak dibahas di tempat lain.

Saya mau cerita soal proses ta'aruf yang saya lakukan 4 tahun yang lalu. Ta'aruf yang berujung pernikahan. Mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya :)

Perkenalan


Saya adalah salah satu di antara banyak orang yang memutuskan untuk menjalani ta'aruf ketika hendak menikah. Seorang lelaki menunjukkan keinginannya mempersunting saya, dan kami menerimanya di rumah kami.

Saya duduk didampingi kedua orangtua saya sedangkan dia seorang diri saat itu. Di pertemuan pertama, kami hanya saling bertanya hal-hal mendasar. Orangtua saya sih yang nanya, karena sepanjang pertemuan saya cuma diam. Ditanya dia pun cuma bisa nunduk diam πŸ˜‚

Ketika kami berdua memutuskan untuk lanjut, orangtua saya kembali memanggilnya untuk menjelaskan lebih jauh tentang saya dan keluarga saya. My family has some issues, so we thought we should tell him beforehand.

Beliau pun menceritakan tentang keluarga Beliau, berharap sama-sama bisa menerima. Kami sudah merasa cocok secara fisik dan sifat dasar, tapi pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, kan?

Saat itu saya hampir lupa untuk mencari tau soal dia lebih dalam. Ini pertama kalinya saya melakukan ta'aruf. Saya senang sekaligus bingung. Alhamdulillah, Ibu saya berinisiatif meminta nomor kakak perempuan calon saya untuk bertanya lebih jauh. Saya yakin, keluarga Beliau akan jujur.

Kami segera undur diri untuk menelepon, meninggalkan ayah saya dan calon saya berdua di ruang tamu. Ibu saya bertanya soal sifat calon saya, dan kakak perempuan si lelaki menjawab bahwa dia (si lelaki) santun dan jujur.

Ibu saya bertanya lagi, "apa yang ia lakukan ketika marah?".
Kakaknya menjawab, "dia hampir gak pernah marah. Dan ketika marah, dia gak membentak apalagi sampai ngamuk.". Kira-kira begitu jawaban Beliau.

Setelah mendengar jawaban itu, saya dan Ibu saya merasa lega. Tinggal menunggu tanggapan si lelaki dan keluarganya soal kami. Jika sama-sama punya tanggapan baik, pernikahan bisa dilangsungkan.

Long story short, akhirnya kami menikah. Alhamdulillah, keluarganya menerima saya dengan baik, dan sebaliknya. Yang dikatakan keluarganya soal suami juga benar. He is a great man.

Yang terpenting, meski kebengkokanku terkadang membuatnya kesal, dia hampir gak pernah membentakku, boro-boro mau lempar barang atau mukul. Keluar rumah saat marahpun gak pernah, karena dia tau bahayanya.

Bentuk-hati
Credit: Pixabay

Proses dari ta'aruf hingga akad itu sangat ditekankan untuk dipersingkat. Semakin lama prosesnya, semakin besar fitnahnya. Tapi bukan berarti harus tergesa-gesa lantas jadi nge-skip obrolan sebelum menikah.

Obrolan sebelum menikah itu penting, lho, utamanya untuk mencegah penyesalan, dan supaya lebih menguatkan keinginan untuk menikah.
Tapi tentunya harus tetap dijaga batasannya. Kita bisa minta tolong keluarga kita untuk menghubungi si lelaki via telepon atau sms. Titip pertanyaan ke mereka.

Mau mengundang si lelaki ke rumah seperti yang kami lakukan pun bisa. Tapi kitanya ngumpet aja di balik penutup (gorden atau apapun) supaya gak curi-curi pandang. Ingat, belum halal. πŸ™ˆ
Toh udah saling lihat pas pertama kali si dia berkunjung ke rumah. Pandangan pertama dibolehkan, selanjutnya jangan, kecuali nanti ketika sudah halal.

Bicarakan hal yang sekiranya penting. Waktu itu saya mengurus Ibu saya yang sedang sakit dan adik saya yang masih sekolah, makanya saya nanya, apa gak masalah kalau tinggal bersama Ibu dan adik? Dan Beliau gak keberatan.

Saya gak nanya soal apa boleh kerja di luar atau nggak, karena saya gak ada pikiran mau kerja di luar saat itu. Tapi boleh juga ditanyakan, supaya tau pendapatnya.
Soal agamanya jangan lupa. Malah agama itu penting banget. Karena menikah itu bukan cuma untuk menghalalkan, tapi juga sebagai sarana beribadah. Apalagi lelaki itu bakalan jadi imam kita. Calon imam setidaknya harus punya keilmuan yang cukup supaya bisa mendidik yang dipimpinnya, atau minimal mau belajar.

Kita bisa tanya ke temannya (jangan lupa pake perantara), apa si lelaki sering ke masjid untuk shalat dan ikut pengajian? Tanya juga soal sifatnya. Dan yang paling tau soal sifat seseorang itu biasanya adalah orang-orang terdekat, entah itu teman atau keluarga. Maka bertanyalah pada mereka.

~~~

Orang yang menikah lewat proses ta'aruf yang singkat sering dikira gegabah, dikira "beli kucing dalam karung", padahal sama sekali tidak. Gak perlu pacaran pun tetap bisa kenal asal kedua pihak jujur akan niatnya.

Baca juga: Persiapan Sebelum Menikah

Jika benar-benar mau membangun keluarga, gak perlu pakai pura-pura. Yang serius akan menunjukkan dirinya yang sesungguhnya, lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Jangan takut gak ada yang mau karena merasa kekurangan kita banyak. Toh gak ada manusia yang sempurna. Yang bisa kita lakukan cuma berusaha supaya jadi lebih baik.

Berdoalah. Semoga Allah mendatangkan seseorang yang mau menerima kita seutuhnya, dan semoga Allah beri kita kekuatan untuk mau menerima dia sepenuhnya. Aamiin.

Hadits-pernikahan


4 komentar:

  1. Betul. Kalo ta'aruf dilakukan dg benar, maka sebenernya ga ada yg namanya kucing dalam karung. Toh ta'aruf itu bukan ujug-ujug ada orang mau nikah, trs minta kita, langsung nikah kan haha. Pasti ada prosesnya dulu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Kadang orang suka salah kaprah. Apalagi kalau lihat prosesnya yang terhitung cepat. Dikiranya udah "meteng" duluan. Hiks

      Hapus
  2. ta'aruf. jadi ingat masa-masa kuliah. masa idealis hehe...

    cuma waktu kuliah dulu ga ada yang na'arufi saya. pada takut kali ya hihihi... eh ga ding, ya jodoh saya memang bukan dari wilayah situ.

    tapi bener mbak, ada teman saya yang dulu pakai pacaran walau ga jadi, sekarang merasakan kalo akibatnya ga enak di kemudian hari. bukan karena ada sesuatu ya tapi karena jadi ga enak kalo ktemu teman lama, khawatir masa lalu diungkit gitu. so, no pacaran is yes.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Pasti gak enak banget klo diungkit2 gitu. Apalagi kalau putusnya karena hal yang gak mengenakkan. :(

      Hapus

Kindly share your thought here!
Please do not leave any links on the comment section.

Thank you! ^^

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES